Pangan Bisa!
  • Beranda
  • Hasil Produksi
  • Tani Unggulan
  • Tokoh Inspiratif
  • Jaga Negeri
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Hasil Produksi
  • Tani Unggulan
  • Tokoh Inspiratif
  • Jaga Negeri
No Result
View All Result
Pangan Bisa!
No Result
View All Result
Home Info Petani

Petani Garam Kian Terpuruk

Admin Komandanpangan by Admin Komandanpangan
16 Maret 2021
in Info Petani
0 0
0
Petani Garam Kian Terpuruk

Petani memanen garam di Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (7/8/2020). Pandemi membuat produksi garam yang seharusnya dimulai pada bulan Mei baru berlangsung pada Juli. Saat ini beberapa ldang mulai panen dan garam yang dihasilkan dijual Rp30.000 per 50 kilogram. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

0
SHARES
15
VIEWS

JAKARTA, KOMPAS — Stok melimpah akibat belum diserap pasar hingga anjloknya harga membuat petani garam atau petambak di sejumlah daerah mengurungkan niat memproduksi garam pada musim ini. Nasib petani kian rentan terpuruk akibat kebijakan impor garam yang ditempuh pemerintah.

Di Jawa Timur, stok garam saat ini mencapai 2,9 juta ton. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jatim mencatat, garam kualitas produksi (KP) 1 mendominasi dengan jumlah sekitar 2,7 juta ton atau 94 persen, disusul garam KP 2 sebesar 152.265 ton (5,2 persen) dan KP 3 sebanyak 15.511 ton (0,5 persen).

Garam KP 1 memiliki kadar NaCl lebih dari 97 persen atau memenuhi kualifikasi garam untuk kebutuhan industri. Tingginya volume produksi garam rakyat dengan kualitas tinggi terjadi karena 60 persen petambak di Jatim menerapkan teknologi geomembran dalam proses produksinya.

Kepala DKP Jatim Gunawan Shaleh mengatakan, dari stok itu, hanya sebagian kecil yang merupakan produksi tahun 2020, yakni 714.724 ton. Selebihnya merupakan sisa produksi tahun sebelum-sebelumnya yang tak terserap pasar.

”Realisasi produksi garam 2020 kurang dari target produksi 1,3 juta ton yang dicanangkan pemerintah. Penyebab rendahnya produksi itu beragam. Salah satunya kegairahan petambak yang merosot karena daya serap pasar rendah,” ujarnya, Senin (15/3/2021).

Baca juga: Stok Garam Jatim Melimpah 29 Juta Ton, Audit Ulang Stok Nasional

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRICarka (40), petani garam, menyiapkan lahan untuk memproduksi garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (30/6/2020).

Jatim merupakan sentra produksi garam nasional dengan kontribusi lebih dari 60 persen. Luas lahan garam mencapai 5,9 juta hektar yang tersebar di 13 kabupaten, antara lain Sampang, Pamekasan, Sumenep, Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya. Lahan garam terluas terdapat di Pulau Madura dengan 6.038 petani.

Ketua Himpunan Masyarakat Petambak Garam Jatim Muhammad Hasan mengatakan, petambak saat ini mengalami pukulan bertubi-tubi. Pukulan itu berupa hasil panen yang tidak terserap oleh pasar sehingga menumpuk di gudang garam. Bahkan, petambak kewalahan menyimpan hasil produksi tahun lalu karena gudang masih dipenuhi stok 2019.

Penyimpanan garam yang tidak standar mengancam kualitas dan membuat garam tidak tahan lama. Dengan kualitas yang turun, harga garam bakal semakin anjlok. Pukulan terhadap petani garam dikhawatirkan kian telak saat pemerintah justru meningkatkan impor garam.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah berencana mengimpor 3,07 juta ton garam tahun ini, naik ketimbang tahun lalu sebanyak 2,7 juta ton. Data yang dikutip Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyebutkan, produksi garam nasional tahun 2021 ditaksir 2,1 juta ton. Sementara kebutuhan garam nasional diperkirakan 4,67 juta ton (Kompas, 12/3).

Penyimpanan garam yang tidak standar mengancam kualitas dan membuat garam tidak tahan lama. Dengan kualitas yang turun, harga garam bakal semakin anjlok. Pukulan terhadap petani garam dikhawatirkan kian telak saat pemerintah justru meningkatkan impor garam.

Di Jawa Barat, petani di Kabupaten Cirebon tidak lagi bersemangat memproduksi garam. Hasil panen garam beberapa tahun sebelumnya juga masih menumpuk di gudang karena tidak terserap pasar.

”Di Losari masih ada sekitar 600 ton garam petani belum terserap. Ini produksi tahun lalu, bahkan ada yang tahun 2019. Soalnya, tahun 2020, harganya mentok di Rp 200 per kilogram. Padahal, biasanya Rp 400 per kg. Dengan harga garam di bawah Rp 500 per kg, petani pasti merugi,” kata Saefudin, Ketua Kelompok Petani Garam Wijaya Rasa di Desa Kalisari, Losari, Cirebon.

Harga garam petani yang anjlok setiap tahun, menurut dia, salah satunya dipicu kebijakan impor garam. ”Kalau impornya naik lagi, lebih baik enggak usah ada petani garam. Impor saja semua. Siapa lagi yang mau beli garam lokal?” ujarnya.

Ismail (34), petani di Pangenan, Cirebon, mengatakan, jika yang menjadi soal adalah kualitas garam rakyat, pemerintah seharusnya membantu meningkatkan kualitas, bukan malah meningkatkan impor garam setiap tahun.

Kerugian petani akibat stok menumpuk dan harga yang anjlok juga terjadi di Karawang. ”Modal yang dikeluarkan tidak sebanding. Kami malah merugi,” kata Aep Suhardi, Ketua Koperasi Garam Segara Jaya Karawang.

Modal yang dikeluarkan tidak sebanding. Kami malah merugi.

Sementara itu, di Kabupaten Sabu Raijua yang menjadi salah satu sentra produksi garam di Nusa Tenggara Timur, stok garam yang menumpuk di gudang mencapai 20.716 ton. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sabu Raijua Lagabus Pian mengatakan, stok yang kini menumpuk di gudang itu merupakan produksi 2020 serta sisa stok tahun 2018 dan 2019.

”Gudang-gudang penuh semua sehingga garam itu ditampung hingga luar gudang. Itu pun cuma ditutup pakai terpal. Karena musim hujan, banyak yang kena air. Sekitar 400-500 ton mencair,” kata Lagabus.

Meski kualitas garam di Sabu Raijua bagus, stok banyak yang menumpuk di gudang karena daya serap pasar rendah. Pengiriman garam ke Surabaya, Jawa Timur, yang menjadi satu-satunya tujuan penjualan, hanya berlangsung dua kali per tahun dengan total 1.500 ton.

”Padahal, kami punya kapal kargo dan tol laut. Hanya tidak ada pembeli,” katanya.

Baca juga: Ramadhan Sebentar Lagi, Pasokan Pangan Aman Nggak Nih?



KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONOSistem tunnel dengan geomembran diterapkan pada tambak garam di pesisir selatan Kebumen. Tampak sejumlah tunnel garam di Desa Miritpetikusan, Kebumen, Jawa Tengah, Rabu (18/9/2019).

Pemasaran dalam negeri

Pemerhati garam di Sabu Raijua, Paulus Dira Tome, mengatakan, jika produksi melimpah dan harga garam turun, seharusnya tidak ada impor garam. Alih-alih tetap impor, pemerintah semestinya fokus pada bagaimana memastikan garam di Tanah Air.

Lagabus berharap pemerintah menghentikan atau menunda impor garam dan mendorong penyerapan garam dalam negeri. ”Kalau tak terserap, kami tidak bisa produksi karena tak ada tempat. Gudang-gudang penuh,” ujarnya.

Selain itu, Lagabus menagih janji pemerintah untuk menghubungkan produsen garam dengan industri yang membutuhkan. ”Sampai sekarang belum ada realisasi. Kalau ada kepastian pasar, produsen tentu tetap mau produksi,” katanya.

Adapun Miftahul dari Asosiasi Petani Garam Sampang di Madura meminta agar pemerintah jujur membuka data kebutuhan garam untuk industri yang harus dipenuhi impor.

Baca juga: Jalankan 100 Hari Program Prioritas Jenderal Listyo Sigit, Humas Polri Gelar Pelatihan Konten Kreatif


KOMPAS/VIDELIS JEMALISeorang petambak mengangkut garamnya yang sudah dipanen di pesisir Teluk Palu, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (14/11/2019). Usaha tambak garam itu kembali menggeliat setelah hancur diterjang tsunami pada 28 September 2018.

Secara terpisah, Juru Bicara Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Muryadi mengemukakan, pembahasan alokasi impor garam diputuskan dalam rapat koordinasi lintas kementerian/lembaga setiap akhir tahun di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Persoalannya, kata Wahyu, harga impor garam jauh lebih murah ketimbang garam lokal dan bisa didapatkan dengan cara mudah. Dari hasil tinjauan ke Kebumen, Jawa Tengah, pada akhir pekan lalu, pihaknya menerima keluhan dari Bupati Kebumen bahwa pasar garam konsumsi diserbu garam dapur impor dari India yang dijual di pasar dengan murah atau banting harga.

”Kunci utama melindungi garam rakyat adalah mengontrol importasi agar tidak meluber sampai ke pasar domestik rakyat, merugikan dan mematikan garam rakyat,” katanya.

Wahyu menambahkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan fokus pada peningkatan kualitas dan nilai tambah garam rakyat dari aspek hilirisasi, di antaranya dengan memberi bantuan pendampingan riset dan teknologi agar kualitas garam bisa menjawab kebutuhan industri. Upaya lain, pengolahan berupa pemurnian garam dengan mesin pencucian garam dan solusi memperpendek mata rantai penjualan garam.

Previous Post

Kementan Klaim Stok Beras Berlebih, Kemendag Bilang Perlu Impor

Next Post

Target Swasembada 2025, RI Masih Impor Garam 2,6 Juta Ton Setahun

Admin Komandanpangan

Admin Komandanpangan

Next Post
Target Swasembada 2025, RI Masih Impor Garam 2,6 Juta Ton Setahun

Target Swasembada 2025, RI Masih Impor Garam 2,6 Juta Ton Setahun

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Login
Notify of
guest

guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
  • Trending
  • Comments
  • Latest
#usutkasusvina

#usutkasusvina Meski Dilanda Kontroversi, Film Vina: Sebelum 7 Hari Sukses Bikin Penonton Nangis Sesengukkan

16 Mei 2024
masyarakat Badui dalam masalah pangan

Apa yang kita bisa pelajari dari masyarakat Badui terkait pangan ?

13 Oktober 2021
BLT PKL Rp1,2 Juta Dicairkan oleh TNI-Polri, Ini Alasannya

BLT PKL Rp1,2 Juta Dicairkan oleh TNI-Polri, Ini Alasannya

10 September 2021
harga beras turun

Fluktuasi Harga Pangan Nasional per 8 Agustus 2024: Beras, Bawang, hingga Ikan Mengalami Kenaikan

8 Agustus 2024
BMP RI DPC Mimika Salurkan Sembako, Wujud Kepedulian dan Dukungan bagi Masyarakat Iwaka

BMP RI DPC Mimika Salurkan Sembako, Wujud Kepedulian dan Dukungan bagi Masyarakat Iwaka

0
Mengawal Ketersediaan Pangan Nasional

Mengawal Ketersediaan Pangan Nasional

0
Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Dorong Pola Integrated Farming

Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Dorong Pola Integrated Farming

0
Ada Lumbung Pangan di Kalteng & Sumut, Impor Pangan Bisa Turun 10%

Ada Lumbung Pangan di Kalteng & Sumut, Impor Pangan Bisa Turun 10%

0
BMP RI DPC Mimika Salurkan Sembako, Wujud Kepedulian dan Dukungan bagi Masyarakat Iwaka

BMP RI DPC Mimika Salurkan Sembako, Wujud Kepedulian dan Dukungan bagi Masyarakat Iwaka

29 September 2026
MEDAN DELI - Tim URC Pelabuhan Belawan dari Satuan Reserse Narkoba Polres Pelabuhan Belawan mengamankan pria berinisial H (31) yang diduga mengedarkan sabu di Jalan Mangaan I, Lingkungan IV, Kelurahan Mabar Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Kamis (17/9/2026). Petugas juga mengamankan tiga pria lain yang diduga sebagai pengguna. Kasus ini memperlihatkan wajah #ReserseBekerja di lapangan. Penyidik tidak berhenti pada penangkapan, tetapi merangkai alat bukti dan menelusuri jaringan di belakang pelaku. Berawal dari Informasi Warga Kapolres Pelabuhan Belawan AKBP Aditya S.P. Sembiring, M.Si., melalui Kasat Res Narkoba AKP A.R. Riza, S.H., M.H., menjelaskan pada Selasa (22/9/2026) bahwa pengungkapan berawal dari informasi masyarakat. Warga melaporkan dugaan peredaran narkotika di sebuah rumah di kawasan Mabar Hilir. Personel lalu menyelidiki informasi tersebut sebelum menindak sekitar pukul 11.00 WIB. AKP A.R. Riza menyebut H sempat membuang barang bukti dengan tangan kirinya saat hendak diamankan. Petugas tetap menyita empat paket sabu, satu bungkus plastik klip kosong, satu pipet ujung runcing, satu kotak putih, dan uang tunai Rp60.000 dari tangan H. Barang Bukti dan Tes Urine Menguatkan Perkara Tim URC Pelabuhan Belawan tidak hanya bersandar pada pengakuan. Dalam interogasi, H mengakui mengedarkan sabu. Tiga pria lain, yakni J (49), DA (32), dan AF (24), menjalani pemeriksaan dan tes urine dengan hasil positif metamfetamina. Penyidik menyimpan masing-masing satu botol urine dari ketiganya sebagai barang bukti. Paket sabu, perlengkapan, dan hasil tes urine kini saling menguatkan, sehingga pengakuan tersangka tidak berdiri sendiri. Pola kerja ini sejalan dengan hukum acara yang berlaku. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP berlaku sejak 2 Januari 2026 dan mensyaratkan penyidik menetapkan tersangka berdasarkan minimal dua alat bukti. KUHAP baru juga memasukkan barang bukti sebagai jenis alat bukti tersendiri, ketentuan yang kini sedang diuji sejumlah pemohon di Mahkamah Konstitusi. Menelusuri Jaringan di Balik Pengedar AKP A.R. Riza menegaskan timnya masih mengembangkan kasus ini. Penyidik ingin melacak sumber sabu yang diperoleh H serta kemungkinan jaringan lain yang terkait. Keempat orang tersebut bersama seluruh barang bukti kini menjalani pemeriksaan di Sat Res Narkoba Polres Pelabuhan Belawan. Penangkapan di tingkat pengedar baru membuka pintu; penelusuran sumber barang menentukan apakah mata rantai di atasnya ikut tersentuh. Penyidikan narkotika juga dapat bertumpu pada sains forensik. Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri memasukkan pengujian dan analisis narkotika dalam cakupan kerja penyidikan ilmiah, bersama forensik digital, kimia, dan toksikologi. Kasus di Mabar Hilir mungkin tampak sebagai pengungkapan rutin. Namun, cara penyidik merangkai laporan warga, barang bukti, tes urine, dan pengembangan jaringan menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan perkara terletak pada bukti yang utuh. Modus boleh berubah, tetapi prinsip pembuktian tetap menjadi pegangan.

Tim URC Pelabuhan Belawan Tindaklanjuti Laporan Warga soal Dugaan Peredaran Sabu #ReserseBekerja

22 September 2026
Pengungkapan sabu di Mabar Hilir berawal dari laporan warga. Tim URC Pelabuhan Belawan terus menelusuri sumber narkotika.

Tim URC Pelabuhan Belawan Gerak Cepat Ungkap Dugaan Peredaran Sabu #ReserseBekerja

22 September 2026
Dorong Kesahteraan Masyarakat Adat Mimika, Pemerintah Pusat Berikan Bantuan Ternak Babi Kepada Timotius Samin (Kepala Suku Besar Kamoro)

Dorong Kesahteraan Masyarakat Adat Mimika, Pemerintah Pusat Berikan Bantuan Ternak Babi Kepada Timotius Samin (Kepala Suku Besar Kamoro)

12 Agustus 2026

Berita Pilihan

Dorong Kesahteraan Masyarakat Adat Mimika, Pemerintah Pusat Berikan Bantuan Ternak Babi Kepada Timotius Samin (Kepala Suku Besar Kamoro)

Dorong Kesahteraan Masyarakat Adat Mimika, Pemerintah Pusat Berikan Bantuan Ternak Babi Kepada Timotius Samin (Kepala Suku Besar Kamoro)

12 Agustus 2026

Dorong Kesahteraan Masyarakat Adat Mimika, Pemerintah Pusat Berikan Bantuan Ternak Babi Kepada Timotius Samin (Kepala Suku Besar Kamoro)

12 Agustus 2026
MIMIKA - Barisan Merah Putih Republik Indonesia (BMP RI) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Mimika kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat melalui penyaluran bantuan bahan bangunan untuk pembangunan Gereja Matoa SP3 di Distrik Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Jumat (7/8/2026). Bantuan tersebut diserahkan secara langsung oleh Ketua BMP RI DPC Kabupaten Mimika, Panius Kogoya, kepada pengurus gereja dan perwakilan jemaat setempat. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen organisasi dalam mendukung pembangunan fasilitas keagamaan sekaligus memperkuat nilai toleransi antarumat beragama di wilayah Papua Tengah. Panius Kogoya menegaskan bahwa dukungan terhadap pembangunan rumah ibadah merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata BMP RI bagi masyarakat. Menurutnya, keberadaan sarana ibadah yang memadai akan memberikan kenyamanan bagi umat dalam menjalankan aktivitas keagamaan. “Dalam mendukung pembangunan sarana ibadah di Kab. Mimika, kami menyerahkan bantuan bahan bangunan kepada Gereja Matoa SP3. Kami berharap bantuan ini mempercepat proses pembangunan sehingga jemaat dapat beribadah dengan nyaman,” terang Panius. Ia menjelaskan bahwa rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun kehidupan spiritual masyarakat, memperkuat rasa persaudaraan, serta menanamkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Selain memberikan perhatian terhadap sektor keagamaan, BMP RI juga terus berupaya mendorong kemajuan di berbagai bidang lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai program sosial yang dijalankan diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan. Pada kesempatan yang sama, BMP RI mengajak seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Mimika untuk terus menjaga persatuan, keamanan, dan ketertiban. Warga juga diimbau agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi maupun isu-isu provokatif yang berpotensi memecah belah masyarakat. Organisasi tersebut menekankan pentingnya penyelesaian setiap persoalan melalui dialog yang konstruktif serta koordinasi dengan pemerintah dan aparat keamanan, termasuk TNI dan Polri. “Kegiatan ini membuktikan pengabdian BMP RI tidak hanya pada aspek keamanan, tetapi juga sosial dan toleransi beragama. Kami ingin menjadi mitra strategis pemerintah serta motor penggerak nilai nasionalisme dan keutuhan NKRI,” pungkasnya. Melalui kegiatan sosial ini, BMP RI berharap semangat gotong royong, toleransi, dan persatuan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat Mimika demi mewujudkan kehidupan yang harmonis dan sejahtera.

BMP RI Mimika Salurkan Bantuan untuk Gereja Matoa SP3, Perkuat Semangat Toleransi

7 Agustus 2026
optimalisasi keterbukaan informasi publik pada humas Polri

Divhumas Polri Optimalkan Pelayanan Informasi Publik melalui Penguatan PPID

30 Juli 2026
© Copyright Komandanpangan Team All Rights Reserved
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Hasil Produksi
  • Tani Unggulan
  • Tokoh Inspiratif
  • Jaga Negeri

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
wpDiscuz