Komandanpangan.com – Pemerintah memastikan program makan bergizi gratis (MBG) tetap dilaksanakan selama bulan Ramadhan 2026. Meski demikian, terdapat sejumlah penyesuaian mekanisme penyaluran guna menyesuaikan dengan pelaksanaan ibadah puasa, khususnya bagi penerima manfaat yang beragama Islam. Penyesuaian ini dilakukan tanpa mengurangi hak dan manfaat yang diterima masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa kebijakan tersebut telah diputuskan secara resmi oleh pemerintah. Ia menegaskan bahwa mbg selama Ramadhan akan tetap berjalan karena aktivitas belajar mengajar di sekolah tidak dihentikan. Namun, menu dan waktu pemberian makanan akan disesuaikan agar tetap relevan bagi penerima manfaat yang berpuasa.
“Kami tadi sudah memutuskan, pelaksanaan MBG pada bulan Ramadhan tetap berjalan, karena anak sekolah masuk, diberikan makanannya yang kering, untuk yang muslim, yang berpuasa, dikasih makanan yang kering,” kata Zulhas di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta Pusat, seperti dikutip dari Kompas.com, Sabtu (31/1/2026).
Penyesuaian lebih lanjut dijelaskan oleh Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana. Ia menyebutkan bahwa perubahan jadwal distribusi MBG akan diterapkan di sejumlah lokasi, salah satunya di pondok pesantren. Untuk santri yang bermukim di pesantren, penyaluran MBG selama Ramadhan akan dilakukan pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa.
“Untuk SPPG yang ada di pesantren, karena penerima manfaatnya lokal, nanti pelayanannya geser ke sore hari dengan makanan normal,” ujar Dadan.
Sementara itu, distribusi makan bergizi gratis di sekolah umum tetap dilakukan pada siang hari seperti biasanya. Namun, khusus untuk sekolah-sekolah yang berada di daerah dengan mayoritas penduduk beragama Islam, makanan yang dibagikan tidak langsung dikonsumsi di sekolah, melainkan dapat dibawa pulang oleh siswa untuk dijadikan menu berbuka puasa.
“Untuk anak sekolah, di daerah yang mayoritas puasa, itu akan dibagikan di siang hari pada saat anak sekolah untuk dibawa pulang, untuk menjadi menu pada saat buka,” tutur Dadan.
Menu MBG yang dibagikan selama Ramadhan pun mengalami penyesuaian. Pemerintah tidak menyediakan makanan siap santap seperti pada hari-hari biasa, melainkan makanan kering yang memiliki daya tahan lebih lama.
“Contoh untuk puasa nih, kurma, telur rebus atau telur asin atau telur pindang, buah, susu, abon,” jelas Dadan.
Adapun pelaksanaan MBG di sekolah-sekolah yang berada di daerah mayoritas non-muslim tidak mengalami perubahan. Begitu pula dengan penyaluran MBG bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang tetap dilakukan seperti hari normal tanpa penyesuaian jadwal.
Dalam kesempatan terpisah, Dadan menambahkan bahwa menu MBG selama Ramadhan dirancang memiliki ketahanan hingga 12 jam agar tetap aman dan layak dikonsumsi saat waktu berbuka puasa.
“Tahan 12 jam, sehingga untuk yang puasa dikonsumsinya pada saat buka. Seperti tahun lalu, untuk daerah yang mayoritas berpuasa, makanan akan dibagikan pada saat jam sekolah,” ujarnya.
Ia memastikan bahwa seluruh penerima manfaat tetap menjadi prioritas pemerintah.
“Semua (diutamakan) baik yang puasa maupun tidak puasa, hanya mekanismenya yang berbeda. Kalau di daerah yang tidak puasa kan normal seperti hari biasa. Untuk daerah yang puasa, makanannya siap santap dibawa untuk dikonsumsi saat buka,” pungkas Dadan.
















