Pangan Bisa!
  • Beranda
  • Hasil Produksi
  • Tani Unggulan
  • Tokoh Inspiratif
  • Jaga Negeri
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Hasil Produksi
  • Tani Unggulan
  • Tokoh Inspiratif
  • Jaga Negeri
No Result
View All Result
Pangan Bisa!
No Result
View All Result
Home Info Petani

Sederet Curhat Mentan di Hadapan Wakil Rakyat

admin by admin
27 Januari 2021
in Info Petani
0 0
0
Sederet Curhat Mentan di Hadapan Wakil Rakyat
0
SHARES
16
VIEWS

Jakarta, CNBC Indonesia – Melonjaknya harga kedelai dan daging sapi dalam beberapa waktu terakhir membuat Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjadi sasaran Komisi IV DPR RI. Ketua Komisi IV DPR RI Sudin mempertanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Ia memberi gambaran bagaimana harga daging sapi terus merangkak naik dalam setengah tahun terakhir. Dimulai dari harga US$ 2,9/Kg, kini sudah menyentuh US$3,6/Kg bobot hidup atau Rp 55.460 per Kg sapi impor dari Australia. Ketika hal ini terjadi, Indonesia sebagai negara yang terbiasa langganan impor sapi menjadi sangat terganggu.

“Kita harus benar-benar mencermati, kenapa terjadi pergerakan (harga) sapi tahun 2020? Pertama terlenanya kita dengan impor, ini tugas Dirjen PKH (Peternakan dan Kesehatan Hewan), jangan pakai lagu lama, ini harus pakai lagu baru. Kenaikan harga dipicu kebakaran di Australia tahun 2019, kemudian tahun 2020 juga terjadi banjir,” kata Sudin.

Kekesalan Sudin tidak lepas dari besarnya anggaran Direktorat Jenderal tersebut selama tiga tahun terakhir, misalnya saja tahun lalu pagu anggaran semula Rp 2,022 Triliun menjadi Rp 1,21 Triliun. Meski anggaran besar, namun masalah tetap muncul, salah satunya kenaikan harga daging ini.

Untuk itu, Kementan harus mencari cara agar harga sapi di pasaran tetap bisa murah. Jika tidak, maka protes publik atas kinerja Menteri Pertanian akan semakin deras mengalir.

“Yang kami khawatirkan situasi pangan ke depan karena kita hadapi bulan puasa dan lebaran, ini 2021 haqqul yakin harga sapi lebih naik dari hari ini, karena stok banyak dibawa ke Vietnam dari Australia, dari Vietnam dipotong dibawa ke China. Mentan siap-siap kalau nggak ada solusi siap-siap di-bully lagi masalah daging,” kata Sudin.

Selain memikirkan bagaimana agar produksi sapi dalam negeri meningkat, Kementan juga punya tanggung jawab dalam pengembangan kedelai lokal.

“Kalau kedelai Kementerian Pertanian tidak pernah dilibatkan dalam regulasi, tetapi tugasnya adalah memproduksi kedelai apabila dananya cukup.

Namun, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengakui bahwa produk kedelai produksi Indonesia sulit bersaing dengan produk kedelai impor Amerika Serikat dan Brazil.

“Tidak mungkin petani kedelai Indonesia head to head dengan petani kedelai Amerika, Brasil pasti kalah. Harganya di sana Rp 5.000 sekian (per kg), kita kalau produksi di atas Rp 6.500 baru ada untungnya,” kata SYL dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Senin (25/1/2021).

Perbedaan harga produksi itu menjadikan petani Indonesia sulit bersaing karena keuntungannya pun tidak banyak. Selama ini untung kedelai lebih kecil dibanding komoditas lain.

“Untuk kedelai, 1 hektare lahan hanya bisa menghasilkan keuntungan Rp 1,5-2 juta, itu pun termasuk besar, kemudian jagung bisa menghasilkan untung 4-5 juta/hektare, sementara padi Rp 5-6 juta/hektare. Jadi dipaksa apapun mungkin nggak bisa,” sebut SYL.

Dari sini bisa terlihat bagaimana wajar minat petani kecil untuk menanam kedelai begitu kecil. Demi meningkatkan minat tersebut tentu bisa, asalkan ada harga pokok penjualan (HPP).

“Pernah kedelai swasembada di Indonesia? pernah zaman Pak Harto dulu tapi HPP 6 kali lebih besar dari harga beras, kita petani tidak diapa pun mau tanam itu. Yang makan kedelai bukan orang Jawa saja tapi sampai Papua, kita bisa sepanjang harga dibuatkan HPP. Kita butuh HPP masuk lartas (larangan terbatas), kalau nggak sulit dengan kekuatan yang ada,” papar mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu.

Faktor lain yang membuat Indonesia kalah dari kedelai impor adalah adanya larangan produksi untuk Genetically Modified Organism (GMO), di antaranya diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Padahal, sebagian besar produk impor yang masuk ke Indonesia masuk ke dalam klasifikasi itu. SYL mengakui itu juga menjadi salah satu penyebab.

Permasalahan kedelai itu bukan hanya dari segi output, jika mengukur lebih jauh maka dari hilir perlu menjadi perhatian, yakni masalah pupuk. Masalah ini sempat menjadi sorotan Presiden Joko Widodo soal efektivitas anggaran pupuk subsidi terhadap produksi pertanian di Indonesia. Selain itu, pupuk subsidi juga dikaitkan dengan masalah kelangkaan setiap tahun.

Mentan mengklaim selama ini pemerintah di tingkat pusat telah melaksanakan program dengan baik, namun Ia mensinyalir adanya keterlambatan birokrasi di sisi pemerintah daerah yang membuat ketersediaan pupuk menjadi langka.

“Persoalan pupuk ada lini 1, lini 2, lini 3, lini 4 dan lini 5. Lini 1 hingga 2 pengawasan dan arahan di Menteri, 2 sampai 3 biasanya Gubernur, 3 sampai 4 Bupati. Sekarang ada Bupati belum beri SK (surat keputusan) penjabaran ke lini 5, ini dinamika di lapangan,” katanya.

Lambannya birokrasi terlihat kala Ketua Komisi IV DPR RI Sudin menyebut ada 57 Kota dan Kabupaten se-Indonesia yang belum mengeluarkan penerbitan SK. Namun, Kementan membantah dan menyatakan kini hanya ada 9 pimpinan daerah yang belum mengeluarkan SK tersebut. Daerah tersebut adalah Batu Bara, Padang Sidimpuan, Barito Utara, Katingan, Sorong (Kabupaten), Manokwari, Sorong selatan, Teluk Bintan serta Kota sorong.

“Apa pupuk bisa diselesaikan hanya dengan bangun pendekatan fungsional struktural? Nggak bisa, karena tuntutan pupuk yang ada 23 juta ton. Kemudian diusulkan melalui RDKK (rencana definitif kebutuhan kelompok) yang ada. Kemudian setelah di-cleansingyang tidak bisa tidak (harus) 12 juta ton, yang disetujui cuma 7 juta ton, pasti adalegyang nggak benar,” sebut SYL.

Kebutuhan 23 juta ton pupuk itu untuk memenuhi kebutuhan nasional dengan luas baku sawah 7,46 juta hektare. Meski tidak sepenuhnya mendapat jatah subsidi, namun Ia mengklaim nilai tambah produksi sebagai dampak pupuk bersubsidi mencapai Rp 98,4 triliun. Jika dibandingkan anggaran yang digunakan rata-rata dari 2014-2020 Rp 28,1 triliun, maka nilai manfaat mencapai 250%.

Namun, Presiden Jokowi masih melihat ada carut marut dalam pelaksanaannya. SYL pun menjawab alur penyalurannya.

“Pupuk itu yang pertama uangnya ada di Menteri Keuangan, Industrinya di BUMN. Kementan atur RDKK. Proses RDKK dari Kabupaten terlegalisir sesuai syarat-syarat yang ada, kemudian dilegitimasi oleh Provinsi per Kabupaten, lalu masuk ke Kementan untuk ditetapkan, kemudian lanjut ke BUMN. Begitu prosesnya,” katanya.

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)

Tags: CNBC Indonesia
Previous Post

Anggaran Pertanian Dipotong Rp 6 T, Ternyata Ini Penyebabnya

Next Post

Percepat Musim Tanam, Mentan Klaim Ada Overstock Beras Jutaan Ton 2021

admin

admin

Next Post
Percepat Musim Tanam, Mentan Klaim Ada Overstock Beras Jutaan Ton 2021

Percepat Musim Tanam, Mentan Klaim Ada Overstock Beras Jutaan Ton 2021

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Login
Notify of
guest

guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
  • Trending
  • Comments
  • Latest
#usutkasusvina

#usutkasusvina Meski Dilanda Kontroversi, Film Vina: Sebelum 7 Hari Sukses Bikin Penonton Nangis Sesengukkan

16 Mei 2024
masyarakat Badui dalam masalah pangan

Apa yang kita bisa pelajari dari masyarakat Badui terkait pangan ?

13 Oktober 2021
BLT PKL Rp1,2 Juta Dicairkan oleh TNI-Polri, Ini Alasannya

BLT PKL Rp1,2 Juta Dicairkan oleh TNI-Polri, Ini Alasannya

10 September 2021
harga beras turun

Fluktuasi Harga Pangan Nasional per 8 Agustus 2024: Beras, Bawang, hingga Ikan Mengalami Kenaikan

8 Agustus 2024
BMP RI DPC Kabupaten Mimika Salurkan Paket Sembako kepada Lansia, Janda, dan Penyandang Disabilitas di Kampung Iwaka

BMP RI DPC Kabupaten Mimika Salurkan Paket Sembako kepada Lansia, Janda, dan Penyandang Disabilitas di Kampung Iwaka

0
Mengawal Ketersediaan Pangan Nasional

Mengawal Ketersediaan Pangan Nasional

0
Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Dorong Pola Integrated Farming

Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Dorong Pola Integrated Farming

0
Ada Lumbung Pangan di Kalteng & Sumut, Impor Pangan Bisa Turun 10%

Ada Lumbung Pangan di Kalteng & Sumut, Impor Pangan Bisa Turun 10%

0
BMP RI DPC Kabupaten Mimika Salurkan Paket Sembako kepada Lansia, Janda, dan Penyandang Disabilitas di Kampung Iwaka

BMP RI DPC Kabupaten Mimika Salurkan Paket Sembako kepada Lansia, Janda, dan Penyandang Disabilitas di Kampung Iwaka

31 Oktober 2026
BMP RI DPC Mimika Salurkan 50 Paket Sembako kepada Masyarakat di Kampung Pigapu Kabupaten Mimika

BMP RI DPC Mimika Salurkan 50 Paket Sembako kepada Masyarakat di Kampung Pigapu Kabupaten Mimika

29 Oktober 2026
BMP RI DPC Mimika Salurkan 50 Paket Sembako kepada Masyarakat di Distrik Iwaka Kabupaten Mimika

BMP RI DPC Mimika Salurkan 50 Paket Sembako kepada Masyarakat di Distrik Iwaka Kabupaten Mimika

27 Oktober 2026
#ReserseBekerja, Ditresnarkoba Polda Jabar Sisir Rumah Kos untuk Tekan Peredaran Narkoba

Ditresnarkoba Polda Jabar Periksa 2 Lokasi Kos, #ReserseBekerja Cegah Bahaya Narkoba

20 Oktober 2026

Berita Pilihan

#ReserseBekerja, Ditresnarkoba Polda Jabar Sisir Rumah Kos untuk Tekan Peredaran Narkoba

Ditresnarkoba Polda Jabar Periksa 2 Lokasi Kos, #ReserseBekerja Cegah Bahaya Narkoba

20 Oktober 2026
BMP RI DPC Mimika Salurkan Sembako, Wujud Kepedulian dan Dukungan bagi Masyarakat Iwaka

BMP RI DPC Mimika Salurkan Sembako, Wujud Kepedulian dan Dukungan bagi Masyarakat Iwaka

29 September 2026
MEDAN DELI - Tim URC Pelabuhan Belawan dari Satuan Reserse Narkoba Polres Pelabuhan Belawan mengamankan pria berinisial H (31) yang diduga mengedarkan sabu di Jalan Mangaan I, Lingkungan IV, Kelurahan Mabar Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Kamis (17/9/2026). Petugas juga mengamankan tiga pria lain yang diduga sebagai pengguna. Kasus ini memperlihatkan wajah #ReserseBekerja di lapangan. Penyidik tidak berhenti pada penangkapan, tetapi merangkai alat bukti dan menelusuri jaringan di belakang pelaku. Berawal dari Informasi Warga Kapolres Pelabuhan Belawan AKBP Aditya S.P. Sembiring, M.Si., melalui Kasat Res Narkoba AKP A.R. Riza, S.H., M.H., menjelaskan pada Selasa (22/9/2026) bahwa pengungkapan berawal dari informasi masyarakat. Warga melaporkan dugaan peredaran narkotika di sebuah rumah di kawasan Mabar Hilir. Personel lalu menyelidiki informasi tersebut sebelum menindak sekitar pukul 11.00 WIB. AKP A.R. Riza menyebut H sempat membuang barang bukti dengan tangan kirinya saat hendak diamankan. Petugas tetap menyita empat paket sabu, satu bungkus plastik klip kosong, satu pipet ujung runcing, satu kotak putih, dan uang tunai Rp60.000 dari tangan H. Barang Bukti dan Tes Urine Menguatkan Perkara Tim URC Pelabuhan Belawan tidak hanya bersandar pada pengakuan. Dalam interogasi, H mengakui mengedarkan sabu. Tiga pria lain, yakni J (49), DA (32), dan AF (24), menjalani pemeriksaan dan tes urine dengan hasil positif metamfetamina. Penyidik menyimpan masing-masing satu botol urine dari ketiganya sebagai barang bukti. Paket sabu, perlengkapan, dan hasil tes urine kini saling menguatkan, sehingga pengakuan tersangka tidak berdiri sendiri. Pola kerja ini sejalan dengan hukum acara yang berlaku. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP berlaku sejak 2 Januari 2026 dan mensyaratkan penyidik menetapkan tersangka berdasarkan minimal dua alat bukti. KUHAP baru juga memasukkan barang bukti sebagai jenis alat bukti tersendiri, ketentuan yang kini sedang diuji sejumlah pemohon di Mahkamah Konstitusi. Menelusuri Jaringan di Balik Pengedar AKP A.R. Riza menegaskan timnya masih mengembangkan kasus ini. Penyidik ingin melacak sumber sabu yang diperoleh H serta kemungkinan jaringan lain yang terkait. Keempat orang tersebut bersama seluruh barang bukti kini menjalani pemeriksaan di Sat Res Narkoba Polres Pelabuhan Belawan. Penangkapan di tingkat pengedar baru membuka pintu; penelusuran sumber barang menentukan apakah mata rantai di atasnya ikut tersentuh. Penyidikan narkotika juga dapat bertumpu pada sains forensik. Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri memasukkan pengujian dan analisis narkotika dalam cakupan kerja penyidikan ilmiah, bersama forensik digital, kimia, dan toksikologi. Kasus di Mabar Hilir mungkin tampak sebagai pengungkapan rutin. Namun, cara penyidik merangkai laporan warga, barang bukti, tes urine, dan pengembangan jaringan menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan perkara terletak pada bukti yang utuh. Modus boleh berubah, tetapi prinsip pembuktian tetap menjadi pegangan.

Tim URC Pelabuhan Belawan Tindaklanjuti Laporan Warga soal Dugaan Peredaran Sabu #ReserseBekerja

22 September 2026
Pengungkapan sabu di Mabar Hilir berawal dari laporan warga. Tim URC Pelabuhan Belawan terus menelusuri sumber narkotika.

Tim URC Pelabuhan Belawan Gerak Cepat Ungkap Dugaan Peredaran Sabu #ReserseBekerja

22 September 2026
© Copyright Komandanpangan Team All Rights Reserved
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Hasil Produksi
  • Tani Unggulan
  • Tokoh Inspiratif
  • Jaga Negeri

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
wpDiscuz